

.Semua Tentangku.
Cukup lama saya berada di balik pintu itu. Naluri saya melarang untuk keluar dari persembunyian walau sekelompok pelajar itu telah berlalu. Dari balik pintu saya masih mendengar suara mereka bertanya ke sana ke mari. Sesekali ada yang melintas di depan rumah sembari berlari. Mereka kehilangan jejak karena saya tiba-tiba raib.
Dalam situasi seperti itu, ibu pemilik rumah tiba-tiba muncul. Dia terkejut melihat saya sudah berada di ruang tamu rumahnya. Matanya penuh tanda tanya. Sebelum terjadi salah paham, kepadanya saya meminta maaf karena masuk ke rumahnya tanpa permisi. Dengan suara pelan saya menceritakan bahwa saya sedang dikejar-kejar sekelompok siswa sekolah lain. Sekolah saya dan sekolah mereka terlibat tawuran.
Di luar dugaan saya, sang ibu malah mempersilakan saya masuk ke salah satu kamar. “Lebih aman sembunyi di dalam kamar sana. Kalau di sini bisa ketahuan,” ujarnya. Ada perasaan tidak enak. Kamar tentu wilayah privat. Apalagi untuk tamu asing seperti saya. Tapi, ketakutan mengalahkan perasaan tidak nyaman. Saya lalu bersembunyi di kamar yang ditunjuk.
Tak lama kemudian rombongan siswa berseragam abu-abu itu muncul lagi. Kepada sang ibu mereka bertanya apa melihat ada orang dengan ciri-ciri seperti saya lewat di sekitar situ? Lamat-lamat saya mendengar sang ibu mengatakan dia sama sekali tidak melihat ada yang lewat. Ibu itu melindungi saya.
Untuk sekian lama saya berada di kamar hingga kemudian ibu pemilik rumah muncul membawa nampan berisi nasi dan lauk pauk. Lengkap dengan segelas air putih. Dia menyuruh saya makan dan meminta saya tetap di kamar karena rombongan anak-anak yang mengejar saya masih bergerombol tidak jauh dari rumahnya.
Melihat hidangan yang disajikan, ingatan saya kembali pada apa yang saya perbuat beberapa waktu lalu. Rumah tempat saya bersembunyi ini letaknya tidak jauh dari beberapa sekolah yang ada di kawasan Dok V, Jayapura. Di situ ada sebuah SMA, STM, dan SMP. Melihat peluang bisnis, pemilik rumah, ibu yang baru saja menyelamatkan saya, membuka warung makanan. Bagian samping rumahnya dia jadikan warung, tempat anak-anak yang bersekolah di sekitar situ bisa menyantap mie bakso dan jajanan lain.
Saya masih duduk di bangku kelas tiga Sekolah Teknik (setingkat SMP). Sekolah saya letaknya di Dok VII, sekitar satu kilometer dari lokasi warung. Tapi biasanya sepulang sekolah saya dan teman-teman mampir dulu ke warung itu. Kami biasa kumpul-kumpul di sana.
Kalau bangku di depan warung sudah penuh, ibu pemilik warung mempersilakan para pembeli duduk di dalam, di ruang makan keluarga mereka. Nah, situasi inilah yang sering saya dan teman-teman manfaatkan. Kebaikan ibu pemilik warung tersebut kami salah gunakan.
Kalau makan di warung itu, saya dan teman-teman sengaja memilih duduk di ruang makan. Jika pemilik warung lengah, salah satu dari kami segera membuka lemari makan dan mencuri lauk-pauk yang ada di dalamnya. Kadang tempe, empal, ikan goreng, kerupuk atau ayam goreng. Lauk-pauk ini tentu tidak dijual karena untuk konsumsi keluarga pemilik warung. Isi lemari inilah yang menjadi sasaran kami. Enak dan gratis. Pernah sekali kami kepergok. Tapi ibu itu diam saja. Tidak marah. Tidak pula meminta bayaran.
Kini, di ruangan yang tidak terlalu luas itu, di kamar pemilik rumah yang juga pemilik warung yang makanannya sering kami curi, saya mendapat perlindungan. Ibu itulah yang menolong saya. Dia menyembunyikan saya dari kejaran anak-anak SMA. Jika saja dia dendam atas perbuatan saya mencuri makanan di lemari makannya dulu, tentu dia tidak akan sudi menolong saya. Apalagi melindungi.
Sembari menyantap makanan di piring (makanan yang hampir sama dengan yang sering saya curi), perasaan sesak memenuhi rongga dada. “Tuhan, hari ini Engkau menunjukkan kepadaku pelajaran yang luar biasa dalam hidup. Bagaimana orang yang sering saya rugikan, bukannya membenci saya bahkan sebaliknya menyelamatkan saya”.
Peristiwa yang terjadi puluhan tahun lalu itu hingga kini terus membekas dalam ingatan. Sampai saat ini saya terus belajar dari kearifan sang ibu tersebut. Belajar bagaimana membalas perlakuan jahat orang dengan perbuatan baik. Tidak mudah, memang. Tetapi dengan begitu saya merasakan hidup menjadi lebih berarti.
(kutipan di ambil dari http://kickandy.com/corner/5/21/1265/read/PELAJARAN )
Kalau biasanya Kick Andy bicara soal kehidupan, kini saatnya soal kematian yang menjadi bahasan. Bukan untuk melempar polemik soal misalnya klenik yang menyertainya, ataupun menakut-nakuti. Namun lebih kepada wacana bahwa kematian sementara ini memberikan hikmah positif bagi yang mengalaminya. Siapa tahu juga bisa membuat Anda merenung sebentar dan menyarikan manfaat dari kebesaran Tuhan itu.
Subur Satyawan atau lebih akrab dipanggil Samson. Samson yang masa mudanya dipenuhi dengan kehidupan foya-foya, main judi dan main perempuan, serta tidak bertanggung jawab kepada keluarganya, akhirnya mampu berubah menjadi suami dan ayah yang baik bagi istri dan keluarganya. Titik balik kehidupannya bermula saat Samson disentil Tuhan, ia mengalami mati selama kurang lebih 20 menit pada tahun 2000. Seorang mantri kesehatan sempat menyatakan bahwa ia sudah tidak bernyawa. Pada saat itulah, Samson mengaku ia bisa merasakan tubuhnya tertarik ke atas lepas dari badan. Ia merasa dibawa dua orang berjubah hitam, yang dianggapnya setan yang akan membawanya ke neraka. Namun ternyata saatnya belum tiba. “Saya sempat berjanji akan hidup di jalan Tuhan, dan menolak mengikuti dua orang itu…” cerita Samson. Tuhan ternyata mendengar doanya dan memberinya kesempatan kedua. Maut batal menjemputnya saat itu. Ia siuman kembali di hadapan istrinya. Bagaimana ia memaknai peristiwa itu untuk berubah?
Hal yang serupa juga menghampiri pemain saxophone senior Cucu Valianto, atau lebih beken disebut Cucu Ripet. Cucu mengalami mati suri pada akhir tahun 2009 lalu. Saat sedang berada di kamar mandi, ia anfal jantung. Cucu yang sedang bersiap-siap untuk rekaman itu, akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Saat menjalani operasi kedua setelah sempat gagal pada operasi pertama, mendadak denyut jantungnya berhenti. Dokter menyatakan ia sudah tidak ada. Alat-alat bantu operasi dilepas dari dirinya, dan ia ditinggalkan dokter selama 2 jam lebih. Pada saat itulah Cucu mengaku seperti bermimpi sedang berlari-lari di sebuah bukit bersama ribuan orang lainnya, yang semuanya berwajah serupa. Menurutnya, ada sebuah pintu di puncak bukit yang mereka daki bersama-sama itu. “Saat itu saya berlari tanpa henti dan tidak merasa lelah, untuk mencapai pintu gerbang. Namun pada saat sampai di depan pintu, langsung ditutup penjaganya karena katanya sudah penuh…” kenang Cucu. Saat itulah, jantungnya berdenyut kembali dan dokter kembali disibukkan mengurusi mantan mayat Cucu. Pasca kejadian itu, Cucu mengaku mengalami sejumlah mukjizat, yang membuatnya semakin yakin akan kekuasaan Tuhan.
August Melasz, aktor senior yang pernah berjaya pada era 1970-1980-an, ternyata juga memiliki pengalaman spiritual serupa. Pada usia 15 tahun, August yang mengaku sedang dalam masa bandel-bandelnya, sempat dijemput oleh maut. Ia yang saat itu dibonceng motor sahabatnya, mengalami kecelakaan hebat dan terluka sangat parah. Ia dibawa ke rumah sakit terdekat di Surabaya, dan mendapatkan pertolongan secepatnya. Namun ia kemudian dinyatakan oleh petugas medis bahwa nyawanya sudah tidak tertolong lagi. Namun saat dalam keadaan tak sadar itu, August mengaku justru ia merasa sadar dan bisa mengetahui serta mendengar semua kejadian di sekitarnya. Ia juga mengalami kejadian yang menurutnya, pemandangan yang mulia dan sejuk. Apa yang ia nazarkan sehingga kemudian diberi kesempatan hidup kedua, dan mampu memaknai pengalaman magis itu untuk menjadi pedoman hidup dan religinya?
Dan bagi Aslina, mati suri menjadi pengalaman paling dahsyat yang pernah ia rasakan. Penyakit gondok yang diderita perempuan asal Bengkalis Riau ini, mengantarkannya berobat ke sebuah rumah sakit di Malaysia. Saat sedang ditangani dokter, tiba-tiba monitor denyut jantungnya berubah menjadi garis lurus. Dokter memvonisnya sudah tak bernyawa lagi saat itu. Sang paman yang mendampinginya pun panik. Yang unik, Aslina justru mengaku ia bisa melihat kepanikan sang paman, yang sedang berada di luar kamar operasinya. Saat itulah Aslina mengaku ternyata ia sedang berada di luar jasadnya, dan melihat semua yang terjadi di sekitarnya. Beberapa saat kemudian, sejumlah peristiwa spiritual diperlihatkan kepadanya. Mulai dari pertemuannya kembali dengan sang ayah dalam keadaan muda hingga perjalanan-perjalanan yang menurutnya mirip seperti yang selama ini diceritakan oleh guru agamanya tentang kematian. Apa saja visi lengkap yang diterima Aslina selama sekitar 2 jam sakaratul mautnya pada 2006 silam? Apa hikmah yang diterimanya, sehingga ia bisa menata hidupnya menjadi lebih religius? Bagaimana pendapat dokter tentang fenomena mati suri, dari bahasa dan pengetahuan ilmiah medis yang berlaku hingga saat ini?
( kutipan di ambil dari http://kickandy.com/theshow/1/1/1934/read/MATI-SURI )